Kamis, 13 Agustus 2026
AREA
"Melangkah Dengan Nurani, Menegakkan Kebenaran"
HUKUM INTERNASIONAL

Gus Yahya Serukan Jalan Damai, Kritik Konsep 'Perang Berguna' di Timur Tengah

Gus Yahya Serukan Jalan Damai, Kritik Konsep 'Perang Berguna' di Timur Tengah
Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya), usai menghadiri pemakaman Pemimpin Tertinggi Iran, menyerukan penghentian semua bentuk kekerasan di Timur Tengah. Seruan ini merupakan pesan diplomatik langsung yang mewakili Pemerintah Indonesia dan menegaskan posisi non-kekerasan sebagai satu-satunya jalan keluar yang etis. Gus Yahya secara tegas menyatakan bahwa perang yang menimbulkan korban kemanusiaan luar biasa 'sungguh tidak berguna bagi pihak mana pun', sebuah pernyataan yang menohok logika instrumental konflik bersenjata modern. Pernyataan Gus Yahya ini penting diletakkan dalam konteks hukum humaniter internasional yang mengutamakan prinsip pembedaan dan proporsionalitas. Klaim 'perang defensif' yang sering digunakan pihak-pihak yang bertikai, jika tidak diikuti dengan komitmen pada norma-norma ini, berpotensi menjadi pembenaran bagi pelanggaran HAM berkelanjutan. Seruan untuk beralih ke diplomasi ini adalah pengingat bahwa kedaulatan hukum, bukan kekuatan senjata, yang seharusnya menjadi penengah utama dalam sengketa internasional. Dari perspektif etika perang (jus in bello), seruan ini mengangkat pertanyaan mendasar tentang legitimasi moral dari siklus balas dendam militer. Ketika korban sipil berjatuhan dan stabilitas kawasan terus runtuh, klaim 'hak membela diri' dari semua pihak harus diuji secara kritis terhadap standar martabat manusia yang universal. Posisi Indonesia, seperti disampaikan Gus Yahya, menempatkan nilai perdamaian dan penyelesaian damai di atas kepentingan geopolitik sempit, suatu pendirian yang sejalan dengan konsistensi prinsip dalam politik luar negeri bebas aktif.
ENTITAS TERDETEKSI
Orang: KH Yahya Cholil Staquf, Gus Yahya
Organisasi: PBNU, Pemerintah Indonesia
Lokasi: Timur Tengah, Iran, Indonesia